Modal Sosial

Januari 20, 2010 kedung Tinggalkan komentar
122Editorial.jpg

Victor Silaen
(www.victorsilaen.com)

TERNYATA masih banyak hal yang baik yang kita miliki selaku bangsa yang telah lama hidup di dalam ketidakbenaran ini. Salah satunya adalah modal sosial.
Hari-hari ini, di tengah memun-caknya ketidakpercayaan kita kepada aparat penegak hukum dan para pemimpin yang sibuk me-ngejar kepentingannya sendiri, kita bertemu dengan banyak orang biasa di berbagai pelosok Indonesia yang masih memiliki cinta dan kepedulian besar kepada sesama yang menderita.

Adalah Prita Mulyasari, seorang ibu muda yang tengah diproses hukum akibat berkeluh-kesah di media maya tentang pengalaman buruknya dirawat di Rumah Sakit Omni Internasional (RSOI), Alam Sutera, Tangerang Selatan. Akibat curahan hati lewat sebuah surat elektronik, yang kemudian disebar ke publik di berbagai mailing list itu, ia ditahan di Lembaga Pemasyara-katan Wanita, Tangerang, sejak 13 Mei 2009 karena dituduh melaku-kan pencemaran nama baik terha-dap pihak RSOI.

Ceritanya begini. Prita merasa di-bohongi dengan diagnosa demam berdarah saat dirawat di RSOI pada pertengahan Agustus 2008. Bela-kangan dokter di RS swasta itu mengatakan Prita hanya terkena virus udara. Tak hanya itu, dokter memberikan berbagai macam suntikan dengan dosis tinggi, sehingga Prita mengalami sesak nafas. Saat hendak pindah ke RS lainnya, ia mengajukan komplain karena kesulitan mendapatkan hasil lab medis. Namun, karena keluhan-nya kepada RSOI tak pernah di-tanggapi, ia mengungkapkan kro-nologi peristiwa yang menimpanya kepada teman-temannya melalui surat elektronik dan berharap agar hanya dia saja yang mengalami hal serupa.baca selanjutnya,..

Categories: Modal, SOSIAL

Kesulitan Itu

Desember 17, 2009 kedung Tinggalkan komentar
Kesulitan-Itu.jpg

Victor Silaen
(www.victorsilaen.com)

PRESIDEN Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kembali bereaksi cepat dan tegas. Ia menegaskan bahwa berita-berita yang beredar soal adanya aliran dana Bank Century ke tim politik-nya adalah informasi yang keliru dan merupakan fitnah yang merugi-kan dirinya. Tetapi, mengapa ia yang harus repot-repot memban-tah? Mengapa bukan jurubicaranya saja? “Berita itu seratus persen tidak benar dan merupakan fitnah luar biasa yang perlu diselesaikan supaya keadilan ditegakkan,” kata-nya dalam acara Peringatan Hari Guru Nasional 2009 dan HUT Persa-tuan Guru Republik Indonesia ke-64 di Jakarta, 1 Desember lalu.
Menurut Yudhoyono, rakyat ber-hak mendapatkan informasi yang terbuka dan sebenar-benarnya soal kasus Bank Century. Ia mendu-kung proses supaya persoalan yang mendapat perhatian luas publik itu terbuka secara terang dan jelas. “Saya prihatin dengan berita yang beredar yang tidak berlandaskan kebenaran. Saya nilai berita itu fitnah. Berita itu sudah keterla-luan,” katanya lagi.baca selengkapnya..
Categories: Itu, Kesulitan

Ironi Keadilan

Desember 2, 2009 kedung Tinggalkan komentar
<!–

–>

Ironi Keadilan.jpg
Victor Silaen
(www.victorsilaen.com)INDONESIA adalah negara hukum (rechstaat). Namun ironisnya, hukum di negara ini seperti jaring laba-laba. Yang lemah terjerat, yang kuat (berduit atau berkuasa) terlewat. Para koruptor yang mencuri uang negara milia-ran, bahkan triliunan, bebas ber-gentayangan di mana-mana. Begitupun yang mengeruk habis sumber daya alam, bahkan mence-mari dan merusaknya pula, masih bebas berkeliaran di sana-sini.
Sebaliknya, lihatlah Aguswandi Tanjung, yang harus masuk bui hanya gara-gara mengecas tele-pon selularnya di koridor aparte-men yang disewanya. Padahal, dia punya alasan: butuh informasi ihwal perkembangan gempa di Tasik-malaya, Jawa Barat. Penghuni lantai 7 nomor 8 Apartemen Roxy Mas ini terpaksa mengambil listrik dari koridor lantaran aliran listrik ke unitnya diputus pengelola sejak 6 Agustus 2009. Namun siapa sang-ka, dia dituduh mencuri aliran listrik tanpa sepengetahuan pihak peru-sahaan. Itulah yang membuatnya dipenj…
Page : [1] 2 3 4End »
119.editorial.jpg
18.11.09 16:23
Victor Silaen(www.victorsilaen.com)Reformata.com – PASCA-Soeharto, seharusnya negara ini mereformasi diri terus-menerus menjadi negara berkeadilan. Itu berarti, hukum harus menjadi panglima agar …
Sumpah Satu.jpg
26.10.09 16:58
Victor Silaen(www.victorsilaen.com)
117Editorial.jpg
13.10.09 11:44
Victor Silaen(www.victorsilaen.com)AKHIRNYA keadilan itu datang juga. Ceritanya begini. Pada 27 Maret 2009, Wali Kota Depok Nur Mah-mudi Ismail melalui keputusannya Nomor …
01.10.09 13:38
Victor Silaen(www.victorsilaen.com)BAGAIMANA caranya agar kita dapat memilih pemimpin-pemimpin di lembaga-lembaga negara yang berkualitas dan berintegritas? Dengan kualitas yang dimaksud adalah …
29.09.09 14:52
Victor Silaen(www.victorsilaen.com)DI era Orde Baru, kita punya “musuh bersama” (common enemy). Dialah Presiden Soeharto, seorang jenderal bintang lima dengan masa kekuasaan terpanjang …
teroris.jpg
07.09.09 14:15
Victor Silaen (www.victorsilaen.com) SAMPAI sekarang saya tak habis pikir mencari jawaban atas pertanyaan ini: me-ngapa para pengebom itu sanggup membunuh dua pihak sekaligus, orang-orang lain …
Editorial 113.jpg
19.08.09 13:42
Victor Silaen(www.victorsilaen.com)“Aksi-aksi terorisme yang mengatasnamakan agama dan identitas etnik telah menjadi sebuah tantangan keamanan terpenting yang kita hadapi di masa bergejolaknya …
stranger.jpg
04.08.09 11:51
Victor Silaen(www.victorsilaen.com)Seakan ingin memecah kebisuan pagi Jumat 17 Juli itu, dua bom berkekuatan dahsyat meledak dan menghancurkan sebagian bangunan Hotel JW Marriot dan Hotel Ritz …
garuda-indonesia.jpg
14.07.09 12:36
Victor Silaen(www.victorsilaen.com)Siapa pun yang menang dalam Pilpres 8 Juli lalu (kalau ternyata cukup satu putaran saja), apalah gunanya bergirang atau bersedih? Lain …
Page : [1] 2 3 4End »
Categories: Ironi, Keadilan

Keadilan

November 20, 2009 kedung Tinggalkan komentar
119.editorial.jpg

Victor Silaen
(www.victorsilaen.com)

Reformata.com – PASCA-Soeharto, seharusnya negara ini mereformasi diri terus-menerus menjadi negara berkeadilan. Itu berarti, hukum harus menjadi panglima agar negara ini betul-betul menjadi negara hukum (rechstaat) dan bukan negara berdasar kekuasaan (machstaat) lagi seperti di era Orde Baru. Dulu, kita mengenal istilah-istilah aneh tapi nyata semisal “matius” (mati misterius) dan “petrus” (penembakan misterius). Ada orang-orang yang mati tanpa disangka-sangka. Selidik punya selidik, ternyata mereka terkena peluru. Siapa penembaknya? Tak ada yang tahu. Kalaupun kita bisa menduganya, paling banter kita hanya berani mengatakan itu “oknum”. Dan kalau sudah begitu, selesailah sudah. Sebab yang disebut “oknum” itu identik dengan “orang yang tidak bisa dimintai pertanggungjawaban karena perbuatannya”. Tidak, mereka bukan sakit jiwa yang karenanya tidak bisa dituntut untuk bertanggungjawab. Mereka hanya “oknum”. Jadi? Ya sudah, tidak usah bertanya-tanya lagi.
Begitulah di negara minus keadilan ini. Istilah “oknum” sengaja dilekatkan kepada seseorang atau sekelompok orang dengan maksud agar ia atau mereka tidak diutak-utik lagi sekaitan perbuatan salahnya di masa silam. Siapa yang melekatkan istilah itu? Pastinya para penguasa, dan karena itulah mereka memiliki kekuatan untuk membuat maksudnya tercapai. Alhasil, negara ini tak ubahnya negara berdasar kekuasaan. Karena itulah maka kita ingin mereformasinya di era pasca-Soeharto ini. Tapi apa lacur, tiba-tiba kita tersentak oleh sebuah istilah baru yang juga aneh tapi nyata: “cicak”. Istilah ini menunjuk pada aparat penegak hukum dari lembaga KPK (Komisi Pemberan-tasan Korupsi). Ia bukan sebuah singkatan, melainkan sekedar pengandaian, karena perbandi-ngannya adalah “buaya” alias polisi — yang sama-sama aparat penegak hukum tapi lebih besar, lebih kuat, dan lebih berpengalaman.
Adapun maksud Komjen (Pol) Susno Duadji, si oknum pencipta istilah “cicak” itu, agar orang-orang KPK “jangan macam-macam” terhadap aparat kepolisian. Lho, apa maksudnya? Silakan menyadap alat telekomunikasi siapa saja, kecuali aparat kepolisian. Kira-kira begitu. Tapi, kan, itu salah satu cara kerja aparat KPK? Memang, karena itulah, aneh jadinya kalau ada pihak yang merasa berkuasa mengatur agar mereka diistimewakan oleh KPK.baca selengkapnya..

Santa Odilia, Tolak Kemewahan Dunia, Pilih Pelayanan

November 20, 2009 kedung Tinggalkan komentar
Santa Odilia, Tolak Kemewahan Dunia, Pilih Pelayanan.jpg
Reformata.com – SADARKAH Anda betapa besarnya anugerah Allah dalam hidup setiap orang? Coba bayangkan, betapa bersyukurnya orang mendapat kesempatan untuk menikmati indahnya dunia ini dengan kedua matanya. Mata adalah anugerah besar yang tak boleh dinafikan keberadaannya. Dengan mata, orang dapat memandang karya Allah yang agung, begitu besar, hingga mampu memaksa bibir berucap syukur. Lantas bagaimana dengan orang yang terlahir buta? Apakah mereka juga dapat bersyukur, meski tak sekalipun pernah melihat secara langsung besarnya karya Allah dalam dunia?
Adalah Santa Odilia, putri pasangan bangsawan Aldaric dan Bereswinda yang terlahir buta, seorang santa Katolik yang sejak kecil hidup sengsara dan dibuang – namun di kemudian hari beroleh anugerah Tuhan untuk kembali menikmati hidup, bahkan membaktikan hidupnya bagi kemanusiaan.
Mendapati anaknya terlahir buta, Aldaric ayah Odilia, yang juga seorang tuan tanah yang kaya raya itu pun kemudian berniat membunuh Odilia. Ibarat jatuh, tertimpa tangga pula – sudah terlahir buta, Odilia kecil pun hendak disingkirkan dari keluarganya sendiri – demi menutupi perasaan malu dan perasaan rendahnya martabat memiliki anak buta. Sebelum tindakan nekat Aldaric betul-betul terlaksana, Bereswinda, ibu Odilia kemudian melarikan bayinya ke suatu tempat yang aman, di rumah seorang petani perempuan mantan pekerja atau lebih tepatnya pembantu di rumah tangga mereka.
Bereswinda meminta bantuan mantan pekerjanya itu agar berkenan merawat Odilia, dan mau membawa Odilia ke tempat nan jauh, agar Aldaric tak dapat menemukan anaknya itu. Baumeles-Dames, dekat Besan-con, sebuah biara para suster (susteran) adalah pilihan yang tepat untuk berlindung dari niat jahat Aldaric yang memang sudah tahu pelarian Odilia oleh ibunya itu. Beruntung betul, suster-suster di biara bersedia menerima dan merawat Odilia, bahkan hingga usia bayi malang itu menginjak dua belas tahun.baca selengkapnya..

Peter Cartwright, Tak Takut Menegur Presiden

Oktober 29, 2009 kedung Tinggalkan komentar

Peter Cartwright, Tak Takut Menegur Presiden

Peter Cartwright, Tak Takut Menegur Presiden.jpg
Reformata.com “Para pengkhotbah keliling yang pertama kali ada merupakan orang-orang yang lebih hebat dari siapa pun, mampu melayani di tengah kekacauan. Tidak ada seseorang yang benar-benar gagah, berani di mana pun.” (Edward Eggleston)

DEWASA ini tak sedikit orang mulai “meragukan” militansi pemberita Injil masa kini – setidaknya jauh berbeda sama sekali dengan semangat dan militansi para penginjil dahulu. Karena itulah, tidak ada salahnya jika kita membuka ulang berkas lama, menilik, mencari dan menjelajah kembali jejak para penginjil terdahulu yang penuh semangat mewartakan berita bahagia.
Bagaimana dengan Peter Cartwright? Ya, Peter Cartwright adalah satu dari se-kian banyak penginjil pendahulu yang memiliki semangat yang patut diteladani. Masa muda pria kelahiran Virginia 1 September 1785, dari Keluarga Cartwright terkenal dengan laku yang sama sekali tak terpuji. Bagaimana tidak, hidup Peter setiap harinya diwarnai dengan aktivitas berjudi, berkelahi, dan getol betul ikut judi balap kuda. Itulah masa lalunya. Peter meninggal pada 1872.
Namun setelah mengalami pertobatan, sikap Peter berubah sama sekali. Kerin-duanya untuk menceritakan, mempersaksikan hidupnya sebelum dan setelah menerima Yesus sebagai Tuhan dan juru selamatnya untuk memberkati banyak orang.
Gayung bersambut, kerinduan yang begitu besar untuk melayani Tuhan seolah mendapat jalan di awal kepindahan keluarganya. Gereja tempat keluarga Peter berjemaat, Gereja Methodis Episkopal, memberikannya ijin untuk membentuk suatu kelompok jemaat baru di daerah di mana ia tinggal nantinya. Pen-delegasian tersebut betul-betul diresponi Peter dengan sangat baik. Dengan menunggang kuda ia pun berkhotbah keliling meninggalkan keluarganya untuk menyebarkan Injil ke pedalaman Kentucky, Tennessee, Indiana, Ohio, dan Illinois.baca selanjutnya,..

Categories: Peter Cartwright

Sumpah Satu

Oktober 29, 2009 kedung Tinggalkan komentar
Sumpah Satu.jpg
Victor Silaen
(www.victorsilaen.com)
Reformata.com DELAPAN puluh satu tahun silam, tepatnya 28 Oktober 1928, di Gedung Indone-sische Clubgebouw, Weltevreden (kini Gedung Sumpah Pemuda, di Jalan Kramat 106), Jakarta, milik seorang Tionghoa bernama Sie Kok Liong, para tokoh pemuda me-ngucapkan apa yang kelak disebut sebagai Sumpah Pemuda. Per-tama: “Kami Poetra dan Poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe Tanah Indonesia”. Kedua: “Kami Poetra dan Poetri Indonesia, mengakoe ber-bangsa satoe Bangsa Indonesia”. Ketiga: “Kami Poetra dan Poetri Indonesia, mengakoe mendjoen-djoeng Bahasa Persatoean Bahasa Indonesia”. Pertemuan yang meru-pakan Kongres Pemoeda II itu dihadiri oleh sejumlah utusan se-perti Jong Islamieten Bond, Pe-muda Indonesia, Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Celebes, Jong Ambon, Jong Bataks Bond, Pemoeda Kaoem Betawi, dan PPPI (Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia, yang merupakan wadah pemuda nasionalis radikal non kedaerahan seperti Soegondo Djojopoespito, Suwirjo, S. Reksodi-poetro, Muhammad Yamin, A. K Gani, Tamzil, Soenarko, Soema-nang, dan Amir Sjarifudin). Dari golongan Tionghoa hadir empat orang, yakni Kwee Thiam Hong, Oey Kay Siang, John Lauw Tjoan Hock, dan Tjio Djien Kwie. Kongres yang dipimpin oleh Sugondo Djojo-puspito dengan Sekretaris Muham-mad Yamin ini merupakan kelanju-tan dari Kerapatan Besar Pemoeda atau Kongres Pemoeda I pada 30 April sampai 2 Mei 1926.
Sejak itu berdiri pula organisasi-organisasi baru. Di Bandung, para pemuda yang tergabung dalam kelompok studi umum mendirikan organisasi Jong Indonesia pada 20 Februari 1927. Organisasi ini dimotori oleh Mr Sunario, RM Joe-soepadi Ganoehadiningrat, Soe-giono, dan Mr Sartono. Kemudian berdiri pula Perserikatan Nasional Indonesia (PNI) pada 4 Juli 1927, dengan tokoh utamanya Ir Soe-karno, serta Permoefakatan Per-himpoenan-Perhimpoenan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI) pada 17 Desember 1927. Sebe-lumnya berdiri Tri Koro Dharmo (Tiga Tujuan Mulia) pada 7 Maret 1915 dengan motor utama Sati-man Wirjosandjojo. Lalu Jong Sumatranen Bond pada 9 Desem-ber 1917 dengan tokoh utama Tengkoe Mansoer, Muhammad Anas, Abdul Moenir Nasution, Kamun, dan Muhammad Amir. Sementara di Belanda sendiri Indis-che Vereeniging berubah menjadi Indonesische Vereeniging (Perhim-punan Indonesia) pada 1 Maret 1924 dengan tokoh utama Mo-hammad Hatta. Akan halnya Tri Koro Dharmo, pada kongres per-tama di Solo, 12 Juni 1918, beru-bah menjadi Jong Java.
Kongres Pemoeda II membicara-kan masalah peranan pendidikan kebangsaan dan kepanduan dalam menumbuhkan semangat kebangsaan. Tampil sebagai pem-bicara saat itu adalah Muhammad Yamin, Purnamawulan, Sarmidi Mangunsarkoro, Ramlan, Theo Pangemanan, dan Mr Soenario. Walaupun mendapat gangguan dari Polisi Rahasia Belanda, kong-res tersebut berhasil membuah-kan keputusan yang sangat feno-menal, yaitu Soempah Pemoeda — yang momentumnya kelak kita peringati sebagai Hari Sumpah Pemuda. Pada saat yang sama diperkenalkan lagu Indonesia Raya karya Wage Rudolf Supratman, yang kemudian dijadikan lagu kebangsaan Indonesia.baca selanjutnya,..
Categories: VICTORSILAEN, editorial

Keadilan Itu

Oktober 15, 2009 kedung Tinggalkan komentar
117Editorial.jpg
Victor Silaen
(www.victorsilaen.com)
A
KHIRNYA keadilan itu datang juga. Ceritanya begini. Pada 27 Maret 2009, Wali Kota Depok Nur Mah-mudi Ismail melalui keputusannya Nomor 645.8/144/Kpts/Sos/Huk/2009 menyatakan mencabut IMB (Izin Mendirikan Bangunan) Tem-pat Ibadah dan Gedung Serbaguna atas nama HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) Pangkalan Jati Gandul yang beralamat di Jalan Puri Pesanggarahan IV Kav NT-24 Kelu-rahan Cinere, Kecamatan Limo, Kota Depok, Jawa Barat. Sebelum-nya pihak gereja tersebut telah mendapatkan IMB yang diterbitkan oleh Pemerintah Kabupaten Bogor dengan Nomor 453.2/229/TKB/1998 tanggal 13 Juni 1998. Waktu itu Depok masih termasuk bagian dalam Kabupaten Bogor, dengan Bupati Eddy Yoso Martadipura. Pembangunan pun dimulai. Namun, karena terbatasnya dana, maka proses itu dihentikan untuk sementara. Nah, ketika dana yang terkumpul dianggap cukup untuk melanjutkan kembali pembangu-nan sarana-prasarana ibadah terse-but, proses pun dilanjutkan. Saat itulah ada sekelompok warga yang memprotesnya dan meminta agar pembangunan dihentikan. Namun, seperti kasus yang sudah-sudah, warga yang protes sebagian besar justru bukan penduduk di sekitar gereja, melainkan dari tempat lain.
Karena situasi memanas, maka Wali Kota Depok saat itu, Badrul Kamal, menghentikan proses pem-bangunan. Itu terjadi tahun 2000. Pembangunan pun tertunda, te-rus-menerus tanpa adanya penye-lesaian yang jelas. Akhirnya, Okto-ber 2007, pihak HKBP berupaya un-tuk melanjutkan proses pemba-ngunan gereja dan ruang serba-guna yang sempat terhenti itu. Mereka terlebih dulu mengirim surat kepada Wali Kota Depok yang baru, Nur Mahmudi Ismail, yang isinya menyatakan bahwa HKBP berniat melanjutkan pemba-ngunan. Surat itu dikirim pada Januari 2008. Ditunggu sampai enam bulan, ternyata tak menda-pat tanggapan, sehingga panitia pembangunan kembali mengirim surat yang kedua kalinya.baca selengkapnya,..
Categories: editorial

Rembrandt, Memadukan Seni dan Spiritualitas

Oktober 14, 2009 kedung Tinggalkan komentar
Rembrandt, Memadukan Seni dan Spiritualitas.jpg
HIDUP tak sekadar apa yang tampak oleh mata. Kehidupan adalah sekum-pulan misteri yang penuh dengan beragam tanya dan arti yang tak dapat diurai de-ngan pandangan mata dan visuali-sasi. Tak sekadar makna dan arti, hidup juga dipe-nuhi berjuta ke-indahan estetika yang layak dinik-mati, bahkan digali untuk kemudian divisualisasi dan diekspresikan kembali, sehingga dapat dinikmati oleh lebih banyak orang. Hanya orang yang memiliki jiwa senilah yang mampu merasuk ke dalam misteri kehidupan, memandang beragam hal yang tak tampak oleh mata manusia, lalu menggoreskannya ke dalam media hingga dapat dinikmati dan memberkati banyak orang. Tak sekadar karena keindahannya, tapi juga sekumpulan misteri yang ada. Rembrandt Harmenszoon van Rijn, pria berdarah seni yang lahir sekitar tahun 1606 di Leiden, Belanda, adalah satu di antaranya.
Banyak orang mengenal Rembrandt sebagai seorang seniman barok Belanda, satu di antara pelukis besar dalam sejarah seni dunia. Karirnya sebagai seorang seniman dimulai dengan belajar secara bersama-sama, dari studio satu ke studio lain, di bawah asuhan pelukis-pelukis hebat di masanya. Satu di antaranya adalah studio Jacob van Swanenburgh. Di masa mudanya, Rembrandt juga dikenal sebagai seorang yang berjiwa pembelajar. Tak heran jika dalam waktu singkat, 6 bulan, ia sudah dapat menguasai apa yang diajarkan seniman seniornya, Pieter Lastman, seorang pelukis sejarah asal Amsterdam, Belanda.

Sekembalinya dari Belanda, Rembrandt kembali mengasah apa yang didapatkan dari senior-seniornya. Alhasil lebih dari 600 lukisan, dengan kira-kira 60 buah di antaranya adalah lukisan potret pun berhasil diciptakannya. Tak berhenti sampai di situ, pergelutan antara karya seni dan spiritualitas memaksanya untuk merasuk jauh lebih dalam lagi ke dalam meng-gumuli persoalan ini. Tak sekadar mengekspresikan spiritualitasnya ke dalam kanvas, menunjukkan kepada lebih banyak orang tentang subyektifitas makna yang multi dari satu obyek tertentu, tapi juga membawa orang yang mengamati obyek tersebut merasakan jiwa dan aspek ilahi dari apa yang digambarkannya. baca selengkapnya,..

Jonathan Edwards: Melihat Tuhan dalam Lukisan Semesta

Oktober 7, 2009 kedung Tinggalkan komentar

Jonathan Edwards, Teolog

ALAM semesta adalah lukisan agung yang mahabesar nan indah sepanjang sejarah. Dari alam orang dapat mem-peroleh banyak hal. Tak sekadar berupa materi yang dapat memuaskan diri secara fisik, lebih dari itu, alam juga menyediakan beragam makna yang dapat memuaskan jiwa dan mengha-dirkan ide-ide dengan beragam kompleksitasnya. Menariknya lagi, dari alam orang juga dapat memahami betapa hebatnya Sang Pencipta yang telah melukiskannya dan menghadirkannya secara nyata. Tak heran jika kemudian banyak orang mencoba menilik, mengamati, juga menyelidiki secara mendalam luas dan da-lamnya makna dari alam semesta. Satu di antaranya tersebutlah nama Jonathan Ed-wards, seorang teolog, dan misionaris untuk penduduk asli Amerika.

Sebagai seorang pengagum alam semes-ta, Jonathan Edwards menemukan beragam makna yang luar biasa dari alam semesta. Tak heran jika pria yang lahir pada 5 Oktober 1703 ini begitu mengagumi penemuan-penemuan Isaac Newton dan ilmuwan-ilmuwan lain pada masanya. Bahkan sebelum Edwards me-mutuskan untuk mem-baktikan diri dalam pelayanan secara penuh, ia pun sempat menghasilkan karya tulis tentang beragam topik filsafat alam, di antaranya adalah “laba-laba terbang”, cahaya, dan benda-benda optik lainya.
Ketertarikannya pada alam semesta tak terlepas dari studinya di Yale College, termasuk keter-tarikannya mempelajari tulisan John Locke “Essay Concerning Human Understanding” yang kemudian sangat memengaruhi-nya. Selama kuliah, di Yale College, pria muda yang nantinya akan menjadi pendeta kolonial American Congregational (Jemaat Amerika) ini, juga dikenal sebagai mahasiswa yang aktif dan produktif, khususnya keterlibatannya dalam diskursus keilmuan. Hal ini terlihat jelas dari keseriusannya meng-gumulkan tentang sesuatu yang kemudian dikumpulkannya dalam catatan penting yang diberi nama “The Mind”, “Natural Science” (berisi sebuah diskusi mengenai teori atom), “The Scriptures”, dan “Miscellanies” yang berisi rencana besar untuk sebuah karya dalam bidang filosofi alam dan jiwa, termasuk merumuskan teori dan aturannya sendiri dalam rencananya tersebut. baca selanjutnya…